sebenarnya ,
bukan waktulah yg salah. dan jg bukan keadaan yg gak tepat. alesannya cuman satu, kita kurang beruntung aja. bukan lalu menyalahkan situasi sekarang. bukan kemudian mencaci-maki semua yg terjadi.
mungkin semuanya nggak tepat.
saia dan anda dipertemukan cukup sebagai kawan. naik turun persahabatan sudah sewajarnya menemani. tapi bukan itu yg saia maksudkan.
terkadang, sudah berusaha sedewasa mgkn,
saia masih saja merengek-rengek akan kehadiranmu.
dengan bodohnya, saia masih mengharapkan kamu.
padahal jelas sudah, bahwa saia harus belajar untuk berdiri sendiri di atas bumi ini.
waktu yg berputar seharusnya bisa memutar otak saia juga. tetapi yang terjadi malah sebaliknya, otak saia tak bergerak sedikitpun. hingga saia harus bekerja ekstra dua kali lipat untuk melupakan bayanganmu.
yah . . . ,
bagaimanapun, kita tetaplah hanya teman. tak akan lebih. kalau pun lebih, mungkin hanya sebatas sahabat. setidaknya, terimakasih atas semua kehadiranmu selama ini. atas semua senyum yang mampu mempercerah hari saia. atas segala kebaikan yang telah ditujukan kepada saia. saia berjanji, tidak akan pernah mencoba mengusik kamu lagi . . tidak akan mengganggu meski untuk keadaan terberat sekalipun . . .
dan ketika semuanya itu datang,
maka ia akan berhenti mengejar sang cahaya . . .
lalu sejenak mendekam dalam diam.
mengunci mulut rapat-rapat,
mencoba memaknai setiap kata yang terlontar keluar
bersama dengan deru angin yang tak terelakkan . .
namun kemanakah kakinya harus melangkah?
saat tiada satupun yang berdiri di sampingnya?
saat semua di dunia ini menjadi terlalu absurd untuk dibaca?
dan sinar itupun menghilang cepat,
mengaburkan pandangan mata . .
melesat membawa seluruh mimpi dan harapan,
ia hanya ingin bebas.
hanya ingin merasa merdeka.
tanpa tekanan dan paksaan.
tanpa desakan dan tuntutan.
namun tak ada yang mau peduli.
entah sekarang, nanti maupun esok hari . .
lalu dimanakah cinta?
tersembunyikah ia yang bernama sayang?
yang ada hanya dia sendiri . . .
tertinggal dalam sepi . . .
mengobati semua luka yang sempat tergores . . .
maka kutanya padamu,
tahukah engkau tentang dia?
pernahkah engkau mengenalnya?
sempatkah kau melihat ke arahnya?