merepih alam .

merepih alam
di malam berselubung kabut kelam
wajah pun meredup tercermin haus cahaya
meremang gulana
menatap reruntuhan dalam duka

kunanti fajar
berkawan angin malam
merindukan belaianmu oh asmara, oh asmara
insanmu menanggung rindu

oh asmara
benamkan diriku dalam dekapan tanganmu yang hangat
penyegar cita rasaku
bukakan pintumu
kan kujelang ke pelita hidupku

bawa aku serta
berlayar menuju pantai harapan
bersamamu oh asmara, oh asmara
insanmu menanggung rindu . . .

saia terlalu letih. terlalu bosan. dan terlalu malas. untuk sekedar menunggu satu jam lagi. sudah cukup saia menghabiskan hari-hari kelam yang lalu. untuk meyakinkan pada diri saia bahwa saia masih punya kesempatan. yang mungkin tidak bisa dibilang besar dan terlalu kecil.
haruskah saia bernyanyi seperti itu?
haruskah saia meneriakkan itu?
haruskah saia mengatakannya keras-keras agar dia menoleh dan tahu bahwa saia masih di sini untuk melihat ke arahnya??

Leave a Reply