pengantin wanita
Monday, August 27th, 2007seorang pengantin wanita . menunggu dalam tanya .
akankah pria itu datang ? membawa sebuah cincin , yang meski tanpa permata , tetap bersinar di depan altar ?
berdiri ia di depan pintu gereja . menanti dengan cemas .
bagai kemarau yang sibuk memastikan kapan datangnya tetes air hujan .
bunga lili di tangan hampir layu sudah . gaun putih mulai lapuk . termakan detik demi detik . lilin memendek . namun pengantin pria tak kunjung tiba .
haruskah wanita itu terus berdiri ?
di hadapan pendeta yang mulai terkantuk , hingga hidungnya menempel pada kitab suci berisi pesan dari surga .
di saat kejelasan menjadi harapan terbesar dalam hidup .
wahai pengantin wanita .
rapuhnya hatimu tak ada harganya bila dibandingkan penantianmu .
berjuta berlian dan air emas tak mampu lagi menggantikan tulusnya hatimu .
menunggu sang kekasih menyematkan cincin di jari manis .
kicau burung terus mengalun . bersama biola rusak dan piano yang tak terurus .
di mana ia , si pengantin pria ?
wanita itu bertanya pada senja yang mulai turun . pada langit yang bersih tanpa awan . pada rumput gersang yang lama tak tersentuh embun .
tak peduli beribu detik terlewatkan .
tak peduli akan pengantin pria yang memiliki tambatan hati lain .
tak peduli akan kenyataan bahwa harapan itu sirna sudah .
para pendamping mempelai mulai menjauh . sang pendeta tertidur lelap di kursi agungnya . dan burung merpati tak bertengger lagi di sisi jendela .
terpuruk dalam hening , kesendirian dan pahitnya rasa .
pengantin wanita berjalan masuk ke dalam gereja .
tertatih , mengangkat gaunnya yang terlalu panjang , sambil menjaga agar bunga lilinya tetap utuh .
ditariknya kaki yang terseok . ke depan meja kecil bertabur lilin yang mulai padam sinarnya .
berlutut dalam derai air mata . menengadahkan kepala ke sebuah patung berjubah biru .
diletakkannya lili setengah hidup itu . dipejamkan matanya yang sayu . disatukannya tangannya yang sudah tak bertenaga . dibukanya bibir kecil penuh dosa ,
‘ya bundaku . . jagalah pengantinku . ijinkan aku menunggu ia yang datang sebentar lagi bersama hujan dan pelangi . untuk menyampaikan sedikit rasa . mesipun sakit mulai membara . . ya bundaku , ijinkan aku menunggunya dalam luka . .’
dan ketika angin sepi menyapu , pengantin wanita terlelap dalam mimpi . melihat lelakinya berjalan dengan tegak . membawa sebuah cincin , yang akan hilang , kala pengantin wanita terjaga di tengah malam . .